Gamalan #39 : Tentang Cahaya I

Standar

Cahaya
Terang
Menyinari kegelapan

Cahaya itu ada
Meskipun sekarang lemah
Dulunya sangat kuat

Cahaya adalah kebutuhan dunia
Cahaya itu bernama Islam

Iklan

Gamalan #33 : Biarkan Indonesia Berjaya dengan Khilafah

Standar

Penguasa sekarang mudah mengeluh
Berkata selaksa masyarakat tak punya masalah
Saling tuduh sesama penguasa
Layaknya pertengkaran bocah bocah

Pernah kau berjanji bak seorang nabi
Bahwa akan menyejahterakan rakyat
Tapi ternyata malah menyengsarakan rakyat
Tapi ternyata kau seorang pembohong besar

Sayangnya kita tak punya kuasa
Sering cuma bisa gelisah
Kalaupun didengar cuma basa-basi pencitraan
Kalaupun dianggap akhirnya nyerah
kalah kuat sama arus yang ada

Untuk itu kita mengajak Mahasiswa
Melanjutkan perjuangan para pahlawan bangsa
Indonesia Berjaya dengan Khilafah
Dunia bersatu dalam naungan Khilafah

Untuk itu kita mengajak para Ulama
Melanjutkan perjuangan para wali
Mengobarkan bara Islam di Nusantara
Menyatukan dunia dalam naungan Islam

Untuk itu kita mengajak masyarakat
Memperjuangkan Indonesia Jaya dengan Khilafah
Untuk itu kita berdo’a pada tuhan
Biarkan Indonesia Berjaya dengan Khilafah
Biarkan Dunia Bersatu dalam naungan Khilafah

Surabaya, 13 Dzulhijah 1435

Blab #13 : Kalau perokok menasihati perokok untuk berhenti merokok, itu namanya mustahil

Standar

Dalam sistem demokrasi, jelas tampak kebatilannya. Di dalam sistem ini, hukum itu dibuat, bukan ijtihad. Yang berarti di dalam sistem ini kita diajari durhaka kepada Al Khaliq. Mari kita analogikan, kita, sebagai seorang anak harus patuh terhadap orangtua, benar? Hak memberikan perintah(selama perintah itu benar) hanya milik orangtua, benar? Jika kita membuat perintah sendiri, untuk diri sendiri, adik2 kita, kakak2 kita, yang akhirnya menghilangkan hak orangtua. Kita berarti durhaka pada orangtua, benar?

Pertanyaannya, maka mungkinkah kita akan menjerumuskan saudara seiman kita, untuk durhaka terhadap Al Khaliq, padahal telah jelas, dosa durhaka terhadap Al Khaliq itu sangatlah besar. Apalagi dilakukan secara berjamaah. Pertanyaan lagi, lalu apakah juga mungkin seseorang/sebuah organisasi, bisa berdakwah kepada para pelaku maksiat bahwa apa yang dilakukannya(membuat hukum) itu dilarang, sementara seseorang/sebuah organisasi tersebut juga melakukannya. Sudah cukup banyak dosa yang kita lakukan sendiri tiap harinya, dan janganlah kita menjerumuskan orang lain ke dalam perbuatan maksiat.

“Seorang perokok bila dinasihati sesama perokok agar tidak merokok, mustahil berhenti merokok. Yang nasihatnya kemungkinan diterima adalah orang yang tidak merokok.”

Gresik, 31 Maret 2014M/29 Jumadil Awal 1435H.

 

Blab #12 : Sedikit catatan dari HIP Surabaya

Standar

Ini adalah sedikit catatan dari agenda HIP yang diadakan HTI DPD Surabaya, Ahad 30 Maret 2014.

Adalah sebuah kejelasan bahwa setiap mukmin meyakini bahwa hak membuat hukum hanyalah milik Allah. Hal ini juga telah dijelaskan dalam Al-Qur’an,

[إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ ۖ يَقُصُّ الْحَقَّ ۖ وَهُوَ خَيْرُ الْفَاصِلِينَ[٦:٥٧

“Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia Pemberi keputusan yang paling baik.” (QS. Al-An’am : 57)

[أَلَا لَهُ الْحُكْمُ وَهُوَ أَسْرَعُ الْحَاسِبِينَ [٦:٦٢

“Ketahuilah bahwa segala hukum (pada hari itu) kepunyaan-Nya. Dan Dialah Pembuat Perhitungan yang paling cepat”. (QS. Al-An’am : 62)

Maka jelaslah perbuatan membuat hukum sendiri, adalah perbuatan yang dilarang, karena hal itu diluar kewenangan manusia. Perlu ditambahkan juga ‘ijtihad’ bukanlah membuat hukum sendiri karena di kalangan ulama ushul, ijtihad diistilahkan dengan, “istafrâgh al-wus‘î fî thalab adz-dzann bi syai’i min ahkâm asy-syar‘iyyah ‘alâ wajh min an-nafs al-‘ajzi ‘an al-mazîd fîh (mencurahkan seluruh kemampuan untuk menggali hukum-hukum syariat dari dalil-dalil dzanni hingga batas tidak ada lagi kemampuan melakukan usaha lebih dari apa yang telah dicurahkan.” (Al-Amidi, ibid., hlm. 309. Lihat juga: an-NabhaniAsy-Syakhshiyyah al-Islâmiyyah, I/197).1 Sehingga jelas bahwa ‘ijtihad’ dan legislasi hukum dalam sistem sosialisme, dan demokrasi adalah hal yang berbeda.

Hal yang perlu diingat lagi adalah bahwa ketika kita mengamanahi/memilih/menyuruh sesorang untuk melakukan perbuatan yang terlarang, adalah hal yang terlarang. (ingat kaidah fiqih, perkara yang mengarahkan ke perbuatan haram adalah haram).

Jadi, jelaslah bahwa memilih/mengamanahi/menyuruh seseorang untuk membuat hukum sendiri adalah perbuatan yang dilarang. Dan itulah yang diminta oleh HTI terhadap para kadernya dan masyarakat umum yang beragama Islam agar tidak menjerumuskan seseorang dalam perbuatan yang terlarang.

Terima kasih.

Gresik, 30 Maret 2014 M/28 Jumadil Awal 1435 H.

1. http://hizbut-tahrir.or.id/2007/07/24/meluruskan-makna-ijtihad/

Gamalan #21 : Selalu Ada Pilihan

Standar

Selalu ada pilihan
hidup memang selalu ada pilihan
juga selalu ada konsekuensinya
memilih untuk bersyukur atau mengeluh
memilih untuk bekerja atau duduk menunggu
memilih untuk belajar atau terjebak dalam kegelapan
memilih untuk berjuang atau diam menonton
memilih untuk menerapkan Syariat Islam atau hukum buatan manusia

hidup memang selalu ada pilihan
juga selalu ada konsekuensinya
dan jangan kira hasilnya akan sama

link asli

Gamalan #17 : Jelas Kami Kecewa

Standar

Raung demokerasi menindas masyarakat
Berpadu dengan jeritan alam

Tawa binatang parlemen yang serakah
Atas nama rakyat berbuat semaunya

Jelas kami kecewa
Menatap Islam yang dulu gagah perkasa
Kini tinggal cerita pengantar tidur

Manusia salah itu keniscayaan
Aturan manusia diterapkan
Kehancuran datang itu pasti

Oh
Jelas kami kecewa
Aturan Al Khaliq disingkirkan
Demi kekuasaan semu
Tak ingat siapa yang kasih rezeki

Oh
Jelas kami kecewa
Melihat umat cuma diam
Melihat kami cuma diam
Melihat umat belum berbuat banyak
Melihat kami belum berbuat banyak

Oh
Jelas kami kecewa
Melihat diri belum berbuat banyak
Jelas kami kecewa
Melihat diri belum berbuat banyak
Untuk Islam
Untuk Umat
Untuk meraih Ridha Allah
Jelas kami kecewa

link asli

Blab #9 : Bersyukur Pada Tiap Nikmat-Nya

Standar

Bersyukur itu mudah, bahkan tanpa kita sadari setiap hari umat Islam diajak bersyukur, secara sederhana. Yaitu, mengucapkan kalimat “Alhamdulillah”, minimal 17 kali, di tiap awal raka’at shalat wajib, dalam surat Al-Fatihah.

Meskipun begitu, seringkali kita masih jarang bersyukur secara spesifik pada tiap nikmat yang telah diberikan. Contohnya, wudhu adalah kenikmatan(baca ini), do’a itu kenikmatan(baca postingan saya sebelumnya). Entah karena malas, atau entah karena tidak tahu apa yang harus disyukuri. Padahal begitu banyak hal yang bisa disyukuri dan masih banyak nikmat yang tak tersebut.

Untuk itu saya ingin, mencoba untuk menyebutkan nikmat-Nya yang telah diberikan. Kenapa? Sederhana saja, karena, bersyukur itu perintah.

Untuk itu pula, saya akan menuliskannya nikmat yang saya syukuri secara spesifik pada alamat ini. Yang mau ikutan submit silakan. Sementara saya beri nama gerakan ini 1Day1Alhamdulillah.

Kenapa cuma 1? pelan-pelan aja mas bro, sekalian biar istiqomah juga.

link asli