Blab #17 : Dagangan Demokrasi

Standar

Mau gak mau, bisa dibilang dagangan demokrasi ini cukup menarik.
Padahal, sejatinya, demokrasi adalah dagangan yang seharusnya tidak dijual.

Lalu kenapa tetap disebut dagangan yang menarik?
Karena yang jual banyak, dan klaimnya, bisa dibilang lucu-lucu.

Ada yang bilang demokrasi itu musyawarah.
Padahal di sosialisme atau bahkan monarki, juga ada musyawarah.
Meski yang bermusyawarah tentang aturan yang berlaku, ya tetap orang-orang yang ada di ‘atas’.
Kalaupun ada musyawarah di ‘bawah’, yang dibahas ya itu-itu saja.
11-12 bila dibandingkan dengan sistem demokrasi.

Ada pula yang bilang demokrasi itu kebebasan berpendapat.
Padahal di sosialisme dan monarki ngomong ya ngomong aja, asal gak bahas menggulingkan pemerintahan, 11-12 juga sama demokrasi.
Kalau mau ngomong ke penguasa di monarki juga ada, namanya biasanya ‘royal hearing’. Memang gak mesti ada sih, tergantung.
Bedanya kalau di sosialisme dan monarki, informasi gak penting semacam gosip gak ada lembaga legalnya.
Cuma lewat mulut ke mulut, kalau di demokrasi malah disebarin secara umum atas nama ‘jurnalisme’.

Ada yang bilang kalau masih pakai ktp, sim, dll berarti tetap aja mendukung demokrasi.
Ini malah ngawur, padahal di sosialisme urusan administrasi seperti identitas, perijinan juga ada.
Terus berarti kalau di sistem monarki atau sosialis kita jadi mendukung sosialis atau monarki begitu?

Terus demokrasi itu apa? Demokrasi itu yang ‘qathi’ adalah kedaulatan di tangan rakyat (manusia), demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.
Padahal dalam Islam hukum itu bukan dari manusia, manusia cuma menggali hukum yang telah ditetapkan Allah.

Jadi, pedagang demokrasi mau klaim apa lagi?
Jadi, masih mau dagang demokrasi?

Iklan