Gamalan #37 : Hei Pemimpin, Hei Pemimpi

Standar

Hei pemimpin
Hei pemimpi
Yang bermimpi dunia kan damai

Hei pemimpin
Hei penguasa
Yang diberi kuasa ngatur negara

Hei pemimpin
Hei pelayan
Yang ditugasi ngelayani rakyatnya

Hei pemimpi
Tolong bangun
Sudah siang
Kapan kerja

Hei penguasa
Tolong kami
Kuasa itu
Jangan dibuat nyiksa

Hei pelayan
Tolong kami
Dengar kami
Kami ini bukan sampah

Hei pemimpin
Tolong dengar
Suara rakyat ini
Jangan bikin rakyat marah-marah

Blab #19 : Waspada dengan Utang

Standar

Utang. Anda pernah berhutang? Berapa? 1000? 100000? 1000000? Bagaimana rasanya? tentu tidak enak bukan. Apalagi kalau belum ada uang dan ketemu sama yang memberi hutang. Pasti gak enak, serasa bingung sendiri. Dalam Islam sendiri, hutang itu meskipun dibolehkan, lebih dianjurkan untuk dihindari (detailnya lihat artikel ini).

Lalu bagaimana jika sebuah negara berhutang? Kita ambil contoh Indonesia, anda tahu berapa jumlah hutang Indonesia? sekitar 284 milyar USD atau kalau dikonversi ke rupiah sekitar 3.408 trilyun (asumsi nilai tukar flat pada nilai 12000;  baca artikel) belum termasuk bunganya. Lalu kenapa kalau negara Indonesia punya hutang?

Baca tulisan ini “belum termasuk bunganya” gak? Riba, ya riba. Tahu artinya riba kan? Pertama jelas Dosa, dan yang nanggung kita semua kalau nggak pernah ngingetin pemerintah. Pernah? kalau belum, sana mikir gimana cara ngingetin ke pemerintah. Yang kedua, kehilangan kekuatan dalam negoisasi sama negara lain. Kok bisa? soalnya banyak utang dan belum bisa bayar, sama kayak kita kalau ada utang, pasti bingung ngomongnya. Akibatnya apa? akhirnya kebanyakan kebijakan yang ada malah menguntungkan pihak luar, biar gak cepet ditagih. Rakyat pun dikorbankan.

Solusinya gimana? Ganti presiden? Ganti anggota dpr? sami mawon, podo bae, gak ngefek. Harus ganti sistem, ganti dengan sistem Islam. Cara gantinya gimana? buka link ini.

Gamalan #34 : Balada Orang Tanpa Kuasa

Standar

O, apa jadinya?
E, ini apa?
O, apa jadinya?
E, aku lesu?

Dibolak balik dinalar nalar
Tanpa logika oh ya!
Diraba raba diterka terka
Tidak terduga oh ya!

Misteri uang tidak ada nilainya
Suara rakyat tak ada artinya

Naik Oh!
Naik Ya!
Naik Oh!
Oh ya

Naik lalu lagi Naik
Tahu tahu dikorupsi

Menghutang lalu lagi menghutang
Tahu tahu menipu

Pembangunan oh!
Kemiskinan ya!
Kemiskinan oh!
Oh ya!

Naik lalu lagi Naik
Tahu tahu dikorupsi

‪#‎BaladaOrangTanpaKuasa‬ #GegaraBBMNaik

Blab #18 : Jadi, kapan rencanamu untuk mati?

Standar

Sudah lama gak nulis, kenapa? inspirasi? males? saya juga kurang tahu. terus kenapa nulis lagi? lagi pengen? sepertinya begitu.

Singkat saja. I want to talk about Death. Kematian. Ya kematian, kenapa? Karena seperti yang kita tahu, manusia akan mati, saya akan mati, kita akan mati. Mungkin tidak sekarang, bisa jadi 1 hari lagi, bisa jadi 6 jam lagi, 5 menit lagi, atau bahkan dua detik lagi.

Seperti yang ada di postingan sebelumnya, most of people don’t think seriously about death. Tidak percaya? Coba tanya orang disampingmu, “Kapan rencanamu untuk mati?”. Saya tahu ini aneh, bahkan kalau saya bertanya padamu, mungkin jawabanmu juga sama seperti kebanyakan orang lain, “saya tidak tahu”.

Saya tidak bilang, jawaban itu salah. Tapi, jawaban itu juga tidak sepenuhnya benar. Orang yang sadar tentang kematian, dan benar-benar ingin menyiapkan kematiannya tidak akan menjawab dengan jawaban seperti itu.

Jadi, kapan rencanamu untuk mati?

Surabaya, 5 September 2014.

Blab #17 : Dagangan Demokrasi

Standar

Mau gak mau, bisa dibilang dagangan demokrasi ini cukup menarik.
Padahal, sejatinya, demokrasi adalah dagangan yang seharusnya tidak dijual.

Lalu kenapa tetap disebut dagangan yang menarik?
Karena yang jual banyak, dan klaimnya, bisa dibilang lucu-lucu.

Ada yang bilang demokrasi itu musyawarah.
Padahal di sosialisme atau bahkan monarki, juga ada musyawarah.
Meski yang bermusyawarah tentang aturan yang berlaku, ya tetap orang-orang yang ada di ‘atas’.
Kalaupun ada musyawarah di ‘bawah’, yang dibahas ya itu-itu saja.
11-12 bila dibandingkan dengan sistem demokrasi.

Ada pula yang bilang demokrasi itu kebebasan berpendapat.
Padahal di sosialisme dan monarki ngomong ya ngomong aja, asal gak bahas menggulingkan pemerintahan, 11-12 juga sama demokrasi.
Kalau mau ngomong ke penguasa di monarki juga ada, namanya biasanya ‘royal hearing’. Memang gak mesti ada sih, tergantung.
Bedanya kalau di sosialisme dan monarki, informasi gak penting semacam gosip gak ada lembaga legalnya.
Cuma lewat mulut ke mulut, kalau di demokrasi malah disebarin secara umum atas nama ‘jurnalisme’.

Ada yang bilang kalau masih pakai ktp, sim, dll berarti tetap aja mendukung demokrasi.
Ini malah ngawur, padahal di sosialisme urusan administrasi seperti identitas, perijinan juga ada.
Terus berarti kalau di sistem monarki atau sosialis kita jadi mendukung sosialis atau monarki begitu?

Terus demokrasi itu apa? Demokrasi itu yang ‘qathi’ adalah kedaulatan di tangan rakyat (manusia), demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.
Padahal dalam Islam hukum itu bukan dari manusia, manusia cuma menggali hukum yang telah ditetapkan Allah.

Jadi, pedagang demokrasi mau klaim apa lagi?
Jadi, masih mau dagang demokrasi?

Blab #13 : Kalau perokok menasihati perokok untuk berhenti merokok, itu namanya mustahil

Standar

Dalam sistem demokrasi, jelas tampak kebatilannya. Di dalam sistem ini, hukum itu dibuat, bukan ijtihad. Yang berarti di dalam sistem ini kita diajari durhaka kepada Al Khaliq. Mari kita analogikan, kita, sebagai seorang anak harus patuh terhadap orangtua, benar? Hak memberikan perintah(selama perintah itu benar) hanya milik orangtua, benar? Jika kita membuat perintah sendiri, untuk diri sendiri, adik2 kita, kakak2 kita, yang akhirnya menghilangkan hak orangtua. Kita berarti durhaka pada orangtua, benar?

Pertanyaannya, maka mungkinkah kita akan menjerumuskan saudara seiman kita, untuk durhaka terhadap Al Khaliq, padahal telah jelas, dosa durhaka terhadap Al Khaliq itu sangatlah besar. Apalagi dilakukan secara berjamaah. Pertanyaan lagi, lalu apakah juga mungkin seseorang/sebuah organisasi, bisa berdakwah kepada para pelaku maksiat bahwa apa yang dilakukannya(membuat hukum) itu dilarang, sementara seseorang/sebuah organisasi tersebut juga melakukannya. Sudah cukup banyak dosa yang kita lakukan sendiri tiap harinya, dan janganlah kita menjerumuskan orang lain ke dalam perbuatan maksiat.

“Seorang perokok bila dinasihati sesama perokok agar tidak merokok, mustahil berhenti merokok. Yang nasihatnya kemungkinan diterima adalah orang yang tidak merokok.”

Gresik, 31 Maret 2014M/29 Jumadil Awal 1435H.

 

Blab #11 : Belajar Memahami Fakta

Standar

Kenapa saya ingin menulis ini? pertama, mengingatkan saya sendiri, kedua, banyak dari kita, jarang memahami fakta dengan sempurna, entah karena media yang memang sering mengubah fakta, atau kita yang kurang mau mencari tahu.

Belajar memahami fakta itu penting, why? simple, tanpa fakta yang jelas suatu masalah tidak bisa dinilai secara jelas, yang bisa berujung pada petaka.

Memangnya kenapa kalau tidak tahu fakta? Untuk memudahkan mari kita ambil contoh. Seorang hakim tidak bisa menetapkan hukuman sebelum tahu permasalahan yang diperbuat tersangka, betul atau salah? Seorang dokter tidak bisa memberikan obat tanpa tahu penyakit pasiennya, betul atau salah? Terakhir, seorang mujtahid tidak bisa menentukan hukum syara’ tanpa tahu fakta perbuatan yang akan ditentukan hukumnya, betul atau salah?

Jelas?

Tapi paham fakta juga tidak hanya sekedar tahu, karena tidak semua fakta baik ucapan atau benda itu asli. Ambil contoh yang ada di paragraf ke 3, ketika seorang hakim tahu permasalahannya, dan ada 2 kesaksian yang berlawanan, maka kebutuhan tentang kebenaran “fakta” yang disampaikan saksi adalah jelas.

Maka jelaslah tentang pentingnya memahami fakta, apalagi seorang muslim kita dituntut untuk tidak gegabah dan tidak bertindak sesuai hawa nafsu. Untuk itu marilah memahami fakta dari sebuah informasi dengan jelas, dan tepat.

link asli