Gamalan #31 : Jangan bicara soal demokrasi

Standar

Jangan bicara soal perubahan
Mari bicara tentang nasib umat Islam
Atau berapa besarnya
Pengorbanan kita untuk Islam

Jangan bicara soal nasionalisme
Mari bicara tentang kita yang tidak tahu hukum Islam
Atau berapa banyaknya
Perbuatan dosa yang kita lakukan

Jangan bicara soal demokrasi
Mari bicara tentang yang kita lakukan untuk da’wah Islam
Atau masih layakkah
Kita untuk masuk Surga-Nya

Iklan

Blab #8 : Peran, Potensi, dan Aturan yang Membelenggu

Standar

Manusia itu makhluk yang lemah dan terbatas, bahkan ketika menjadi sebuah kesatuan. Hal ini sebetulnya sudah jelas, karena pada dasarnya manusia hanyalah makhluk ciptaan Allah. Manusia hanya bisa memahami apa yang ada di dalam lingkup manusia, alam semesta, dan kehidupan. Tapi jika merujuk kembali firman Allah pada surat Al-Baqarah ayat 30 yang artinya

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.” (Q.S. Al-Baqarah : 30)

Mengindikasi bahwa potensi terbatas manusia itu sebetulnya luas, dan besar. Pertanyaannya, seluas apa? Sebesar apa? Mari beranalogi(analogi hanya digunakan untuk illustrasi),

image

Figure 1 Human Potential as Whole(Illustration Only)

Analogikan, potensi maksimal manusia sebagai kesatuan itu seperti lingkaran di Gambar 1(Figure 1). Tapi apakah manusia, kita bisa mencapai potensi maksimal itu? Tahukah kita batasnya potensi kita?

Jelas kita tidak tahu, yang tahu ya Allah SWT, Al Khaliq. Maka Bagaimana ketika diterapkan aturan buatan manusia, apakah potensi maksimal tersebut bisa diraih? Mari kita uraikan, dengan fakta bahwa manusia itu terbatas, pemikirannya terbatas, penginderaannya pun terbatas, bahkan yang dianggap paling jenius pun terbatas. Berarti aturan yang dibuat, pasti memiliki batasan, yang tentu lebih kecil daripada potensi yang diberikan oleh Allah SWT. Itu baru dari pandangan yang membuat aturan, apalagi yang hanya menerapkan, tentu lebih kecil lagi. Bagaimanapun juga cara pandang yang membuat dan menerapkan saja jelas berbeda. Mari kita illustrasikan lagi,

image

Figure 2 Human Potential as Whole(Illustration only)

Dalam Gambar 2(Figure 2), ada tiga lingkaran, lingkaran hijau sebagai gambaran potensi maksimal manusia yang sesuai dengan amanah yang diberikan Al Khaliq. Lingkaran biru, menggambarkan potensi manusia dalam pandangan manusia, yang akhirnya melahirkan peraturan seperti demokrasi, kapitalis, ataupun sosialis. Yang batasannya hanya bisa dicapai oleh para pembuat aturannya, yang duduk tenang di atas tahtanya. Lingkaran merah, menggambarkan potensi manusia ketika hanya menerapkan aturan buatan manusia lain. Kenapa? Karena pandangannya semakin dibatasi, menjadi semakin kecil, menjadi semakin terpuruk.

Itulah akibatnya ketika manusia membatasi potensinya dengan aturan manusia lain, semakin kecil, semakin terpuruk. Itulah salah satu alasan kenapa kita harus kembali pada fitrah kita sebagai manusia, kembali mengikuti petunjuk Al Khaliq, kembali menerapkan aturan Al Khaliq dalam semua bidang.

Manusia itu memiliki potensi yang terbatas, meskipun begitu, amanah manusia sebagai khalifah menunjukkan bahwa potensi manusia itu besar. Dan untuk meraih potensi manusia yang besar janganlah membatasi potensi manusia dengan aturan buatan manusia, karena hanya akan membatasi potensi yang besar tadi. Maka terapkanlah aturan Allah SWT(Syariat Islam) dalam naungan Khilafah yang jelas-jelas sesuai dengan fitrah manusia, sehingga potensi yang besar itu bisa dicapai.

link asli

Blab #5 : Islam itu Sempurna, kenapa MASIH ragu?

Standar

“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”  (Q.S. Al Maidah : 3)

Q.S Al Maidah ayat ke 3 menjadi ayat terakhir yang diturunkan pada Nabi Muhammad SAW. Menjadi tanda bahwa lengkaplah agama Islam. Lengkap, mulai dari sistem ekonomi, sistem sosial, sistem pendidikan, sistem hukum dan sanksi, hingga sistem pemerintahan. Ayat ini juga meyakinkan kita, untuk jangan takut pada orang kafir dengan segala macam ancamannya, karena hanya Allah SWT yang harus ditakuti. Padahal peringatan Allah SWT bagi yang berselisih itu sudah jelas.

“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat”(Q.S Ali Imran : 105)

Sama jelasnya dengan janji akan nikmat surga-Nya

“Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga ‘Adn. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar.”(Q.S. At-Taubah : 72)

Lalu kenapa kita masih ragu bahwa hukum, aturan dari Al Khaliq itu benar dan sempurna? Takutkah kita dibenci manusia? Padahal dibenci Al Khaliq itu jauh lebih merugikan.

“Itulah ayat-ayat Allah. Kami bacakan ayat-ayat itu kepadamu dengan benar; dan tiadalah Allah berkehendak untuk menganiaya hamba-hamba-Nya.” (Q.S. Ali Imran : 108)

link asli

Blab #3 : Analogi Kehidupan 1.0

Standar

Kalau ada anak, yang hidupnya itu sudah diurus sama orangtuanya, dibelikan mainan, dihibur, disayang, dididik, dikasih petunjuk-petunjuk, tapi gak nurut sama aturannya orangtua karena menganggap aturan orangtuanya ketinggalan jaman, kurang ajar gak? JAWAB, serius saya ini.

Sama dengan manusia, yang hidupnya itu diurusin sama Allah SWT, dikasih tempat tinggal, dijanjikan surga, dikasih rezeki, dikasih petunjuk-petunjuk, tapi pilih-pilih bahkan mengubah seenaknya aturan-Nya karena menganggap aturan-Nya gak sesuai dengan jaman, kurang ajar gak? JAWAB, serius saya ini.

Ingat, syahadatmu bukan hanya sekedar ucapan, bukan sekedar wacana

link asli

Blab #2 : Rezeki dan Perjuangan Kita

Standar

Tidak sadarkah, di tengah hidup yang penuh maksiat, yang mana kita sering lupa pada Ar Razzaaq, Allah Yang Maha Pemberi Rezeki ini tetap memberikan rezeki tiada henti. Lalu masih pantaskah kita memperjuangkan aturan manusia, padahal telah ada tuntunan, pentunjuk dan aturan yang jelas pada Al-Qur’an dan Sunnah?

link asli