Blab #19 : Waspada dengan Utang

Standar

Utang. Anda pernah berhutang? Berapa? 1000? 100000? 1000000? Bagaimana rasanya? tentu tidak enak bukan. Apalagi kalau belum ada uang dan ketemu sama yang memberi hutang. Pasti gak enak, serasa bingung sendiri. Dalam Islam sendiri, hutang itu meskipun dibolehkan, lebih dianjurkan untuk dihindari (detailnya lihat artikel ini).

Lalu bagaimana jika sebuah negara berhutang? Kita ambil contoh Indonesia, anda tahu berapa jumlah hutang Indonesia? sekitar 284 milyar USD atau kalau dikonversi ke rupiah sekitar 3.408 trilyun (asumsi nilai tukar flat pada nilai 12000;  baca artikel) belum termasuk bunganya. Lalu kenapa kalau negara Indonesia punya hutang?

Baca tulisan ini “belum termasuk bunganya” gak? Riba, ya riba. Tahu artinya riba kan? Pertama jelas Dosa, dan yang nanggung kita semua kalau nggak pernah ngingetin pemerintah. Pernah? kalau belum, sana mikir gimana cara ngingetin ke pemerintah. Yang kedua, kehilangan kekuatan dalam negoisasi sama negara lain. Kok bisa? soalnya banyak utang dan belum bisa bayar, sama kayak kita kalau ada utang, pasti bingung ngomongnya. Akibatnya apa? akhirnya kebanyakan kebijakan yang ada malah menguntungkan pihak luar, biar gak cepet ditagih. Rakyat pun dikorbankan.

Solusinya gimana? Ganti presiden? Ganti anggota dpr? sami mawon, podo bae, gak ngefek. Harus ganti sistem, ganti dengan sistem Islam. Cara gantinya gimana? buka link ini.

Iklan

Gamalan #34 : Balada Orang Tanpa Kuasa

Standar

O, apa jadinya?
E, ini apa?
O, apa jadinya?
E, aku lesu?

Dibolak balik dinalar nalar
Tanpa logika oh ya!
Diraba raba diterka terka
Tidak terduga oh ya!

Misteri uang tidak ada nilainya
Suara rakyat tak ada artinya

Naik Oh!
Naik Ya!
Naik Oh!
Oh ya

Naik lalu lagi Naik
Tahu tahu dikorupsi

Menghutang lalu lagi menghutang
Tahu tahu menipu

Pembangunan oh!
Kemiskinan ya!
Kemiskinan oh!
Oh ya!

Naik lalu lagi Naik
Tahu tahu dikorupsi

‪#‎BaladaOrangTanpaKuasa‬ #GegaraBBMNaik

Gamalan #33 : Biarkan Indonesia Berjaya dengan Khilafah

Standar

Penguasa sekarang mudah mengeluh
Berkata selaksa masyarakat tak punya masalah
Saling tuduh sesama penguasa
Layaknya pertengkaran bocah bocah

Pernah kau berjanji bak seorang nabi
Bahwa akan menyejahterakan rakyat
Tapi ternyata malah menyengsarakan rakyat
Tapi ternyata kau seorang pembohong besar

Sayangnya kita tak punya kuasa
Sering cuma bisa gelisah
Kalaupun didengar cuma basa-basi pencitraan
Kalaupun dianggap akhirnya nyerah
kalah kuat sama arus yang ada

Untuk itu kita mengajak Mahasiswa
Melanjutkan perjuangan para pahlawan bangsa
Indonesia Berjaya dengan Khilafah
Dunia bersatu dalam naungan Khilafah

Untuk itu kita mengajak para Ulama
Melanjutkan perjuangan para wali
Mengobarkan bara Islam di Nusantara
Menyatukan dunia dalam naungan Islam

Untuk itu kita mengajak masyarakat
Memperjuangkan Indonesia Jaya dengan Khilafah
Untuk itu kita berdo’a pada tuhan
Biarkan Indonesia Berjaya dengan Khilafah
Biarkan Dunia Bersatu dalam naungan Khilafah

Surabaya, 13 Dzulhijah 1435

Gamalan #32 : Untitled

Standar

Kematian terjadi kapan saja
Beberapa mati diwaktu tidurnya
Beberapa mati diwaktu kerjanya
Beberapa mati ketika sudah tua
Beberapa mati ketika masih muda

Kematian terjadi di mana saja
Beberapa mati di jalanan
Beberapa mati di sebuah ruangan
Beberapa mati di tengah lautan
Beberapa mati di tengah hutan

Kematian terjadi dengan berbagai skenario
Beberapa mati digerogoti penyakit
Beberapa mati ditengah perang
Beberapa mati karena usia
Beberapa mati karena kecelakaan

Kapan kita mati
Dimana kita mati
Bagaimana kita mati
Pertanyaan yang menarik
Tapi tak banyak yang mau menjawab

Bagaimana dengan anda

Surabaya, 6 September 2014

Blab #18 : Jadi, kapan rencanamu untuk mati?

Standar

Sudah lama gak nulis, kenapa? inspirasi? males? saya juga kurang tahu. terus kenapa nulis lagi? lagi pengen? sepertinya begitu.

Singkat saja. I want to talk about Death. Kematian. Ya kematian, kenapa? Karena seperti yang kita tahu, manusia akan mati, saya akan mati, kita akan mati. Mungkin tidak sekarang, bisa jadi 1 hari lagi, bisa jadi 6 jam lagi, 5 menit lagi, atau bahkan dua detik lagi.

Seperti yang ada di postingan sebelumnya, most of people don’t think seriously about death. Tidak percaya? Coba tanya orang disampingmu, “Kapan rencanamu untuk mati?”. Saya tahu ini aneh, bahkan kalau saya bertanya padamu, mungkin jawabanmu juga sama seperti kebanyakan orang lain, “saya tidak tahu”.

Saya tidak bilang, jawaban itu salah. Tapi, jawaban itu juga tidak sepenuhnya benar. Orang yang sadar tentang kematian, dan benar-benar ingin menyiapkan kematiannya tidak akan menjawab dengan jawaban seperti itu.

Jadi, kapan rencanamu untuk mati?

Surabaya, 5 September 2014.