Gamalan #39 : Tentang Cahaya I

Standar

Cahaya
Terang
Menyinari kegelapan

Cahaya itu ada
Meskipun sekarang lemah
Dulunya sangat kuat

Cahaya adalah kebutuhan dunia
Cahaya itu bernama Islam

Iklan

Gamalan #38 : Gelap II

Standar

Malam masih panjang
Malam ini seorang pemulung mati
Malam ini seorang pengemis mati
Malam ini … seorang anak mati
Sementara itu penguasaha sibuk berpesta dengan para tikus

Malam masih panjang
Malam ini sangat dingin
Malam ini sangat gelap
Malam ini sangat panjang
Sedangkan kita tak bisa berbuat apa-apa

Kita masih terpisah
Disetir penguasaha
Disekat oleh dalih-dalih
Diadu oleh penguasaha
Malam ini masih panjang
Sementara cahaya matahari tak tahu kapan datangnya

Blab #20 : Catatan Tentang Passion

Standar

Sebetulnya ngomongin tentang passion itu susah2 gampang. Minimal, sedikit banyak bakalan nyindir motivator tentang passion. Kenapa? karena menurut saya, menyuruh orang mengikuti passionnya itu bisa jadi tidak baik, meskipun, adakalanya bagus juga.

Faktanya, kalau anda bukan berasal dari suku pedalaman, anda seringkali dinasihati, atau setidaknya pernah menerima nasihat seperti ini, bekerjalah sesuai passionmu, maka kau tidak akan pernah merasa pekerjaanmu menjadi beban. Benar? mengaku sajalah, anda tidak perlu berbohong. Setidaknya, kalau anda kuliah (kalau tidak, mungkin anda memang memilih tidak kuliah, kalau tidak mampu, maka saya minta maaf kalau menyinggung perasaan anda), anda pasti disarankan memilih jurusan yang anda inginkan.

Salahkah nasihat itu? hmm, sebetulnya agak susah menjawab pertanyaan ini. Kalau dijawab ya, maka saya nanti akan dikatakan menyalahkan para motivator. Kalau tidak, maka tulisan ini menjadi tidak perlu ditulis. Susah kan? untuk itu, mari kita perkirakan apa yang terjadi bila semua orang mengikuti passion masing-masing.

Coba anda jawab pertanyaan ini, berapa persen petani yang passionnya memang bertani? tak tahu? kita misalkan saja 60%, sisanya memiliki passion berbeda dan memilih untuk mengikuti passionnya. Nah, kira-kira apa yang ada di pikiran anda? bingung? coba jangan hanya memikirkan dari sudut pandang individual saja, tapi lebih luas lagi. Minimal, pertama, jumlah orang yang mengelola tanah pertanian akan berkurang drastis, padahal tiap orang memiliki batasan dalam megelola tanah pertanian. Kedua, akibat kurangnya jumlah petani, produksi pangan berkurang. Hal ini jika ditarik ke level negara, maka setidaknya akan mengakibatkan suatu negara harus impor pangan dan menimbulkan ketergantungan. Belum lagi kalau anak para petani yang ada juga hanya sebagian saja yang memiliki passion untuk bertani, efeknya, jumlah petani akan terus berkurang di tiap generasi. Padahal, faktanya kebutuhan pangan itu hampir selalu naik. Buruk bukan? hanya karena mengikuti passion, dampaknya meluas sampai ke level negara.

Anda mungkin berpikir, itu kan cuma perkiraan, buktinya mana? Kalau begitu, coba tanya orang-orang yang tinggal di pemukiman kumuh di perkotaan, tanyakan sebelum dikota, kerja apa didesa, kenapa kok milih datang ke kota. Coba tanyakan juga ke para petani di desa, anaknya masih ikut kerja di desa atau tidak, kalau anaknya gak jadi petani juga tanyakan kenapa. Coba tanyakan juga pada mahasiswa2 di jurusan pertanian, kalau sudah lulus mau kerja dimana, di pertanian atau di bank. Cobalah bertanya, dan pikirkan. Itu baru satu perkiraan, baru satu contoh. Bayangkan kalau semua orang mengikuti passionnya.

Saya bukan bermaksud menyalahkan para motivator2, atau menyalahkan passion. Tapi, sekedar mengingatkan anda yang ingin mengikuti passion anda. Apakah anda harus mengkuti passion anda dan membuang yang sudah anda lakukan? Tak bisakah anda melakukan keduanya?

Gamalan #37 : Hei Pemimpin, Hei Pemimpi

Standar

Hei pemimpin
Hei pemimpi
Yang bermimpi dunia kan damai

Hei pemimpin
Hei penguasa
Yang diberi kuasa ngatur negara

Hei pemimpin
Hei pelayan
Yang ditugasi ngelayani rakyatnya

Hei pemimpi
Tolong bangun
Sudah siang
Kapan kerja

Hei penguasa
Tolong kami
Kuasa itu
Jangan dibuat nyiksa

Hei pelayan
Tolong kami
Dengar kami
Kami ini bukan sampah

Hei pemimpin
Tolong dengar
Suara rakyat ini
Jangan bikin rakyat marah-marah

Gamalan #36 : Gelap I

Standar

malam datang
rumah kita dirampok
rumah kita dirusak
rumah kita dibakar
sedangkan pagi tak kunjung datang

malam masih panjang
tak ada yang datang membantu
yang datang hanya tikus-tikus
merusak apa yang ada
sedangkan kita tidak bisa apa-apa

malam masih panjang
tikus-tikus datang semakin banyak
mengundang seluruh keluarga dan temannya
tikus-tikus berpesta pora
sedangkan kita tak mau berbuat apa-apa
sedangkan cahaya matahari tak tahu kapan datangnya

Gamalan #35 : Oh Indonesia (Pelayan Sang Tuan)

Standar

Oh Indonesia dalam pembangunan kerohanian
Oh Indonesia TANAH AIR PARA PEMBOHONG
Sementara banyak rakyatnya hidup di kolong-kolong

Oh Indonesia dalam pembanguna ekonomi
Oh Indonesia TANAH AIR PARA KAPITALIS
Sementara banyak rakyatnya dibiarkan miskin, menangis dan meringis

Oh Indonesia dalam pembangunan keadilan
Oh Indonesia TANAH AIR PARA HARTAWAN
Sementara banyak rakyatnya dipaksa jadi anjing sang tuan

Oh Indonesia dalam pembangunan pendidikan
Oh Indonesia TANAH AIR PARA PENIPU
Sementara banyak rakyatnya sering tuan tipu

Oh Indonesia dalam pembangunan keamanan
Oh Indonesia TANAH AIR PARA JAGOAN
Sementara banyak rakyatnya jadi mainan sang tuan

Oh Indonesia dalam pembangunan demokrasi
Oh Indonesia TANAH AIR PARA POLITIKUS
Sementara banyak rakyatnya dipaksa melayani sang tuan yang rakus

(diambil dari potongan lagu bang iwan, yang berjudul Oh Indonesia (Suksesi) dan diubah seperlunya)

Blab #19 : Waspada dengan Utang

Standar

Utang. Anda pernah berhutang? Berapa? 1000? 100000? 1000000? Bagaimana rasanya? tentu tidak enak bukan. Apalagi kalau belum ada uang dan ketemu sama yang memberi hutang. Pasti gak enak, serasa bingung sendiri. Dalam Islam sendiri, hutang itu meskipun dibolehkan, lebih dianjurkan untuk dihindari (detailnya lihat artikel ini).

Lalu bagaimana jika sebuah negara berhutang? Kita ambil contoh Indonesia, anda tahu berapa jumlah hutang Indonesia? sekitar 284 milyar USD atau kalau dikonversi ke rupiah sekitar 3.408 trilyun (asumsi nilai tukar flat pada nilai 12000;  baca artikel) belum termasuk bunganya. Lalu kenapa kalau negara Indonesia punya hutang?

Baca tulisan ini “belum termasuk bunganya” gak? Riba, ya riba. Tahu artinya riba kan? Pertama jelas Dosa, dan yang nanggung kita semua kalau nggak pernah ngingetin pemerintah. Pernah? kalau belum, sana mikir gimana cara ngingetin ke pemerintah. Yang kedua, kehilangan kekuatan dalam negoisasi sama negara lain. Kok bisa? soalnya banyak utang dan belum bisa bayar, sama kayak kita kalau ada utang, pasti bingung ngomongnya. Akibatnya apa? akhirnya kebanyakan kebijakan yang ada malah menguntungkan pihak luar, biar gak cepet ditagih. Rakyat pun dikorbankan.

Solusinya gimana? Ganti presiden? Ganti anggota dpr? sami mawon, podo bae, gak ngefek. Harus ganti sistem, ganti dengan sistem Islam. Cara gantinya gimana? buka link ini.