Blab #8 : Peran, Potensi, dan Aturan yang Membelenggu

Standar

Manusia itu makhluk yang lemah dan terbatas, bahkan ketika menjadi sebuah kesatuan. Hal ini sebetulnya sudah jelas, karena pada dasarnya manusia hanyalah makhluk ciptaan Allah. Manusia hanya bisa memahami apa yang ada di dalam lingkup manusia, alam semesta, dan kehidupan. Tapi jika merujuk kembali firman Allah pada surat Al-Baqarah ayat 30 yang artinya

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.” (Q.S. Al-Baqarah : 30)

Mengindikasi bahwa potensi terbatas manusia itu sebetulnya luas, dan besar. Pertanyaannya, seluas apa? Sebesar apa? Mari beranalogi(analogi hanya digunakan untuk illustrasi),

image

Figure 1 Human Potential as Whole(Illustration Only)

Analogikan, potensi maksimal manusia sebagai kesatuan itu seperti lingkaran di Gambar 1(Figure 1). Tapi apakah manusia, kita bisa mencapai potensi maksimal itu? Tahukah kita batasnya potensi kita?

Jelas kita tidak tahu, yang tahu ya Allah SWT, Al Khaliq. Maka Bagaimana ketika diterapkan aturan buatan manusia, apakah potensi maksimal tersebut bisa diraih? Mari kita uraikan, dengan fakta bahwa manusia itu terbatas, pemikirannya terbatas, penginderaannya pun terbatas, bahkan yang dianggap paling jenius pun terbatas. Berarti aturan yang dibuat, pasti memiliki batasan, yang tentu lebih kecil daripada potensi yang diberikan oleh Allah SWT. Itu baru dari pandangan yang membuat aturan, apalagi yang hanya menerapkan, tentu lebih kecil lagi. Bagaimanapun juga cara pandang yang membuat dan menerapkan saja jelas berbeda. Mari kita illustrasikan lagi,

image

Figure 2 Human Potential as Whole(Illustration only)

Dalam Gambar 2(Figure 2), ada tiga lingkaran, lingkaran hijau sebagai gambaran potensi maksimal manusia yang sesuai dengan amanah yang diberikan Al Khaliq. Lingkaran biru, menggambarkan potensi manusia dalam pandangan manusia, yang akhirnya melahirkan peraturan seperti demokrasi, kapitalis, ataupun sosialis. Yang batasannya hanya bisa dicapai oleh para pembuat aturannya, yang duduk tenang di atas tahtanya. Lingkaran merah, menggambarkan potensi manusia ketika hanya menerapkan aturan buatan manusia lain. Kenapa? Karena pandangannya semakin dibatasi, menjadi semakin kecil, menjadi semakin terpuruk.

Itulah akibatnya ketika manusia membatasi potensinya dengan aturan manusia lain, semakin kecil, semakin terpuruk. Itulah salah satu alasan kenapa kita harus kembali pada fitrah kita sebagai manusia, kembali mengikuti petunjuk Al Khaliq, kembali menerapkan aturan Al Khaliq dalam semua bidang.

Manusia itu memiliki potensi yang terbatas, meskipun begitu, amanah manusia sebagai khalifah menunjukkan bahwa potensi manusia itu besar. Dan untuk meraih potensi manusia yang besar janganlah membatasi potensi manusia dengan aturan buatan manusia, karena hanya akan membatasi potensi yang besar tadi. Maka terapkanlah aturan Allah SWT(Syariat Islam) dalam naungan Khilafah yang jelas-jelas sesuai dengan fitrah manusia, sehingga potensi yang besar itu bisa dicapai.

link asli

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s