Blab #9 : Bersyukur Pada Tiap Nikmat-Nya

Lekat

Bersyukur itu mudah, bahkan tanpa kita sadari setiap hari umat Islam diajak bersyukur, secara sederhana. Yaitu, mengucapkan kalimat “Alhamdulillah”, minimal 17 kali, di tiap awal raka’at shalat wajib, dalam surat Al-Fatihah.

Meskipun begitu, seringkali kita masih jarang bersyukur secara spesifik pada tiap nikmat yang telah diberikan. Contohnya, wudhu adalah kenikmatan(baca ini), do’a itu kenikmatan(baca postingan saya sebelumnya). Entah karena malas, atau entah karena tidak tahu apa yang harus disyukuri. Padahal begitu banyak hal yang bisa disyukuri dan masih banyak nikmat yang tak tersebut.

Untuk itu saya ingin, mencoba untuk menyebutkan nikmat-Nya yang telah diberikan. Kenapa? Sederhana saja, karena, bersyukur itu perintah.

Untuk itu pula, saya akan menuliskannya nikmat yang saya syukuri secara spesifik pada alamat ini. Yang mau ikutan submit silakan. Sementara saya beri nama gerakan ini 1Day1Alhamdulillah.

Kenapa cuma 1? pelan-pelan aja mas bro, sekalian biar istiqomah juga.

link asli

Iklan

Blab #8 : Peran, Potensi, dan Aturan yang Membelenggu

Lekat

Manusia itu makhluk yang lemah dan terbatas, bahkan ketika menjadi sebuah kesatuan. Hal ini sebetulnya sudah jelas, karena pada dasarnya manusia hanyalah makhluk ciptaan Allah. Manusia hanya bisa memahami apa yang ada di dalam lingkup manusia, alam semesta, dan kehidupan. Tapi jika merujuk kembali firman Allah pada surat Al-Baqarah ayat 30 yang artinya

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.” (Q.S. Al-Baqarah : 30)

Mengindikasi bahwa potensi terbatas manusia itu sebetulnya luas, dan besar. Pertanyaannya, seluas apa? Sebesar apa? Mari beranalogi(analogi hanya digunakan untuk illustrasi),

image

Figure 1 Human Potential as Whole(Illustration Only)

Analogikan, potensi maksimal manusia sebagai kesatuan itu seperti lingkaran di Gambar 1(Figure 1). Tapi apakah manusia, kita bisa mencapai potensi maksimal itu? Tahukah kita batasnya potensi kita?

Jelas kita tidak tahu, yang tahu ya Allah SWT, Al Khaliq. Maka Bagaimana ketika diterapkan aturan buatan manusia, apakah potensi maksimal tersebut bisa diraih? Mari kita uraikan, dengan fakta bahwa manusia itu terbatas, pemikirannya terbatas, penginderaannya pun terbatas, bahkan yang dianggap paling jenius pun terbatas. Berarti aturan yang dibuat, pasti memiliki batasan, yang tentu lebih kecil daripada potensi yang diberikan oleh Allah SWT. Itu baru dari pandangan yang membuat aturan, apalagi yang hanya menerapkan, tentu lebih kecil lagi. Bagaimanapun juga cara pandang yang membuat dan menerapkan saja jelas berbeda. Mari kita illustrasikan lagi,

image

Figure 2 Human Potential as Whole(Illustration only)

Dalam Gambar 2(Figure 2), ada tiga lingkaran, lingkaran hijau sebagai gambaran potensi maksimal manusia yang sesuai dengan amanah yang diberikan Al Khaliq. Lingkaran biru, menggambarkan potensi manusia dalam pandangan manusia, yang akhirnya melahirkan peraturan seperti demokrasi, kapitalis, ataupun sosialis. Yang batasannya hanya bisa dicapai oleh para pembuat aturannya, yang duduk tenang di atas tahtanya. Lingkaran merah, menggambarkan potensi manusia ketika hanya menerapkan aturan buatan manusia lain. Kenapa? Karena pandangannya semakin dibatasi, menjadi semakin kecil, menjadi semakin terpuruk.

Itulah akibatnya ketika manusia membatasi potensinya dengan aturan manusia lain, semakin kecil, semakin terpuruk. Itulah salah satu alasan kenapa kita harus kembali pada fitrah kita sebagai manusia, kembali mengikuti petunjuk Al Khaliq, kembali menerapkan aturan Al Khaliq dalam semua bidang.

Manusia itu memiliki potensi yang terbatas, meskipun begitu, amanah manusia sebagai khalifah menunjukkan bahwa potensi manusia itu besar. Dan untuk meraih potensi manusia yang besar janganlah membatasi potensi manusia dengan aturan buatan manusia, karena hanya akan membatasi potensi yang besar tadi. Maka terapkanlah aturan Allah SWT(Syariat Islam) dalam naungan Khilafah yang jelas-jelas sesuai dengan fitrah manusia, sehingga potensi yang besar itu bisa dicapai.

link asli

Gamalan #10 : Bangunlah Para Pemuda Islam

Lekat

Sinar matamu tajam tanpa ragu
Kokoh Aqidahmu semua tahu
Tegak Ideologimu takkan tergoyahkan
Bermacam suku yang berbeda
Bermacam ras yang berbeda
Bersatu dalam naunganmu
Negara negara yang terpencar
Bersatu dalam Khilafah

Terapkan Syariat Islam
Tegakkan Jihad Global
Jangan ragu dan jangan malu malu
Tunjukkan pada dunia
Bahwa sebenarnya kita mampu

Mentari pagi sudah membumbung tinggi
Bangunlah para pemuda Islam
Mari kita belajar dan belajar
Setelah itu kita bergerak

Tadi pagi esok hari atau lusa nanti
Al-Qur’an itu petunjuk
Sunnah itu tuntunan
Dan coba kamu belajar
Dan coba kamu da’wahkan
Khilafah itu bukan utopia
Yang hanya berisi harapan
Yang hanya berisi khayalan
Khilafah bukan utopia

Bangunlah para pemuda Islam
Mari kita belajar dan bergerak
Mari kita belajar dan berda’wah
Mentari pagi sudah membumbung tinggi

Bangunlah para pemuda Islam
Jangan ragu dan jangan malu-malu
Tunjukkan pada dunia
Khilafah itu bukan utopia
Tunjukkan pada dunia
Bahwa sebenarnya kita mampu

link asli

Gamalan #38 : Gelap II

Standar

Malam masih panjang
Malam ini seorang pemulung mati
Malam ini seorang pengemis mati
Malam ini … seorang anak mati
Sementara itu penguasaha sibuk berpesta dengan para tikus

Malam masih panjang
Malam ini sangat dingin
Malam ini sangat gelap
Malam ini sangat panjang
Sedangkan kita tak bisa berbuat apa-apa

Kita masih terpisah
Disetir penguasaha
Disekat oleh dalih-dalih
Diadu oleh penguasaha
Malam ini masih panjang
Sementara cahaya matahari tak tahu kapan datangnya

Blab #20 : Catatan Tentang Passion

Standar

Sebetulnya ngomongin tentang passion itu susah2 gampang. Minimal, sedikit banyak bakalan nyindir motivator tentang passion. Kenapa? karena menurut saya, menyuruh orang mengikuti passionnya itu bisa jadi tidak baik, meskipun, adakalanya bagus juga.

Faktanya, kalau anda bukan berasal dari suku pedalaman, anda seringkali dinasihati, atau setidaknya pernah menerima nasihat seperti ini, bekerjalah sesuai passionmu, maka kau tidak akan pernah merasa pekerjaanmu menjadi beban. Benar? mengaku sajalah, anda tidak perlu berbohong. Setidaknya, kalau anda kuliah (kalau tidak, mungkin anda memang memilih tidak kuliah, kalau tidak mampu, maka saya minta maaf kalau menyinggung perasaan anda), anda pasti disarankan memilih jurusan yang anda inginkan.

Salahkah nasihat itu? hmm, sebetulnya agak susah menjawab pertanyaan ini. Kalau dijawab ya, maka saya nanti akan dikatakan menyalahkan para motivator. Kalau tidak, maka tulisan ini menjadi tidak perlu ditulis. Susah kan? untuk itu, mari kita perkirakan apa yang terjadi bila semua orang mengikuti passion masing-masing.

Coba anda jawab pertanyaan ini, berapa persen petani yang passionnya memang bertani? tak tahu? kita misalkan saja 60%, sisanya memiliki passion berbeda dan memilih untuk mengikuti passionnya. Nah, kira-kira apa yang ada di pikiran anda? bingung? coba jangan hanya memikirkan dari sudut pandang individual saja, tapi lebih luas lagi. Minimal, pertama, jumlah orang yang mengelola tanah pertanian akan berkurang drastis, padahal tiap orang memiliki batasan dalam megelola tanah pertanian. Kedua, akibat kurangnya jumlah petani, produksi pangan berkurang. Hal ini jika ditarik ke level negara, maka setidaknya akan mengakibatkan suatu negara harus impor pangan dan menimbulkan ketergantungan. Belum lagi kalau anak para petani yang ada juga hanya sebagian saja yang memiliki passion untuk bertani, efeknya, jumlah petani akan terus berkurang di tiap generasi. Padahal, faktanya kebutuhan pangan itu hampir selalu naik. Buruk bukan? hanya karena mengikuti passion, dampaknya meluas sampai ke level negara.

Anda mungkin berpikir, itu kan cuma perkiraan, buktinya mana? Kalau begitu, coba tanya orang-orang yang tinggal di pemukiman kumuh di perkotaan, tanyakan sebelum dikota, kerja apa didesa, kenapa kok milih datang ke kota. Coba tanyakan juga ke para petani di desa, anaknya masih ikut kerja di desa atau tidak, kalau anaknya gak jadi petani juga tanyakan kenapa. Coba tanyakan juga pada mahasiswa2 di jurusan pertanian, kalau sudah lulus mau kerja dimana, di pertanian atau di bank. Cobalah bertanya, dan pikirkan. Itu baru satu perkiraan, baru satu contoh. Bayangkan kalau semua orang mengikuti passionnya.

Saya bukan bermaksud menyalahkan para motivator2, atau menyalahkan passion. Tapi, sekedar mengingatkan anda yang ingin mengikuti passion anda. Apakah anda harus mengkuti passion anda dan membuang yang sudah anda lakukan? Tak bisakah anda melakukan keduanya?

Gamalan #37 : Hei Pemimpin, Hei Pemimpi

Standar

Hei pemimpin
Hei pemimpi
Yang bermimpi dunia kan damai

Hei pemimpin
Hei penguasa
Yang diberi kuasa ngatur negara

Hei pemimpin
Hei pelayan
Yang ditugasi ngelayani rakyatnya

Hei pemimpi
Tolong bangun
Sudah siang
Kapan kerja

Hei penguasa
Tolong kami
Kuasa itu
Jangan dibuat nyiksa

Hei pelayan
Tolong kami
Dengar kami
Kami ini bukan sampah

Hei pemimpin
Tolong dengar
Suara rakyat ini
Jangan bikin rakyat marah-marah

Gamalan #36 : Gelap I

Standar

malam datang
rumah kita dirampok
rumah kita dirusak
rumah kita dibakar
sedangkan pagi tak kunjung datang

malam masih panjang
tak ada yang datang membantu
yang datang hanya tikus-tikus
merusak apa yang ada
sedangkan kita tidak bisa apa-apa

malam masih panjang
tikus-tikus datang semakin banyak
mengundang seluruh keluarga dan temannya
tikus-tikus berpesta pora
sedangkan kita tak mau berbuat apa-apa
sedangkan cahaya matahari tak tahu kapan datangnya

Gamalan #35 : Oh Indonesia (Pelayan Sang Tuan)

Standar

Oh Indonesia dalam pembangunan kerohanian
Oh Indonesia TANAH AIR PARA PEMBOHONG
Sementara banyak rakyatnya hidup di kolong-kolong

Oh Indonesia dalam pembanguna ekonomi
Oh Indonesia TANAH AIR PARA KAPITALIS
Sementara banyak rakyatnya dibiarkan miskin, menangis dan meringis

Oh Indonesia dalam pembangunan keadilan
Oh Indonesia TANAH AIR PARA HARTAWAN
Sementara banyak rakyatnya dipaksa jadi anjing sang tuan

Oh Indonesia dalam pembangunan pendidikan
Oh Indonesia TANAH AIR PARA PENIPU
Sementara banyak rakyatnya sering tuan tipu

Oh Indonesia dalam pembangunan keamanan
Oh Indonesia TANAH AIR PARA JAGOAN
Sementara banyak rakyatnya jadi mainan sang tuan

Oh Indonesia dalam pembangunan demokrasi
Oh Indonesia TANAH AIR PARA POLITIKUS
Sementara banyak rakyatnya dipaksa melayani sang tuan yang rakus

(diambil dari potongan lagu bang iwan, yang berjudul Oh Indonesia (Suksesi) dan diubah seperlunya)